 |
| Gambar ilustrasi |
Bima – Media Kontras // Seorang pasien bernama Mijarina (35), warga Desa Tololai, Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima, dikabarkan mengalami kelumpuhan usai menjalani operasi usus buntu di Rumah Sakit dr. Agung Bima, sekitar sepekan lalu.
Keluarga pasien mengaku terkejut atas kondisi yang dialami Mijarina setelah menjalani tindakan operasi. Menurut keterangan pihak keluarga, sebelum menjalani operasi, kondisi Mijarina dalam keadaan sadar dan dapat beraktivitas seperti biasa meski mengeluhkan sakit perut.
“Awalnya hanya sakit perut dan setelah diperiksa dokter disarankan operasi usus buntu. Operasinya berjalan, tapi setelah itu kaki dan tangannya sulit digerakkan,” ungkap salah satu anggota keluarga, Rabu (25/2/2026).
Pihak keluarga menduga adanya kelalaian dalam penanganan medis, terutama saat proses pembiusan atau tindakan operasi berlangsung. Mereka berharap pihak rumah sakit memberikan penjelasan secara terbuka terkait kondisi pasien yang kini hanya bisa terbaring di tempat tidur.
Kasus ini pun menjadi perhatian warga sekitar Desa Tololai dan Kecamatan Ambalawi. Sejumlah tokoh masyarakat meminta agar persoalan tersebut diselesaikan secara transparan serta mengutamakan keselamatan pasien.
Menurut pihak keluarga RS dr.Agung menyarankan untuk berobat lanjut ke RS Kabupaten Bima disamping RS dr. Agung tersebut dengan alasan karena alat terapi
Hingga berita ini diturunkan, kondisi Mijarina dilaporkan masih dalam perawatan dan belum menunjukkan perkembangan signifikan. Keluarga berharap ada tanggung jawab dan solusi terbaik dari pihak rumah sakit atas musibah yang dialami.
Aktivis sosial NTB, Ilhamuddin mendesak pihak rumah sakit untuk transparan karena dirinya menduga ini ada kelalaian ( Mallpraktek) yang dilakukan oleh Rumah Sakit dr. Agung.
Lanjutnyapihaknya tengah meminta pihak keluarga untuk memakai jalur hukum.
Sementara itu, perwakilan manajemen Rumah Sakit dr. Agung Bima saat dikonfirmasi menyatakan ............