-->

Notification

×

Iklan

Indeks Berita

"KOLAM RETRENSI" Air Banjir Dari Mana Serta Pembuangan Kemana

Rabu, 13 Mei 2026 | Mei 13, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-13T09:16:51Z


Media Kontras //.- Pelaksanaan proyek NUFReP di kawasan Taman Daelakosa atau Taman Ria Kota Bima menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Proyek tersebut direncanakan membangun kolam retensi yang difungsikan sebagai sarana pengendali banjir di wilayah Kota Bima dimana sebagai sumber Anggaran dari pinjaman Bank Dunia sebesar ± 6,2 M.

Taman Ria atau Taman Daelakosa merupakan ruang terbuka hijau yang berada di tengah Kota Bima. Kawasan ini dikenal sejak lama sebagai salah satu paru-paru kota yang memberikan kesejukan bagi masyarakat. Deretan pohon besar yang telah tumbuh puluhan hingga ratusan tahun menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Kota Bima maupun pengunjung dari luar daerah.


Namun, sejak dimulainya pengerjaan proyek, sejumlah pohon besar di kawasan tersebut ditebang karena masuk dalam area pembangunan kolam retensi. Kondisi itu memicu kritik dari sebagian warga yang menilai kawasan Taman Ria kini mulai kehilangan kesejukannya.


Ahmad Mustafa, warga Manggemaci, mempertanyakan konsep pembangunan kolam retensi di lokasi tersebut. Ia menilai perlu ada penjelasan terkait sumber air yang nantinya akan ditampung di kolam retensi itu.


“Air dari mana yang akan ditampung oleh kolam retensi itu, lalu akan dibuang ke mana?” tanya Ahmad saat melihat aktivitas penebangan pohon di Taman Ria, Rabu (13/5/2026).


Berdasarkan penjelasan umum mengenai fungsi kolam retensi, pembangunan fasilitas tersebut bertujuan untuk mengendalikan banjir dan mengelola limpasan air hujan secara terpadu, khususnya di kawasan perkotaan yang minim daerah resapan air.


Selain itu, kolam retensi juga memiliki sejumlah manfaat lain, seperti mencegah banjir dan genangan, menekan puncak debit air saat hujan deras, mengatur aliran air secara bertahap ke saluran drainase, hingga membantu konservasi air tanah.


Di sisi lain, keberadaan kolam retensi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang terbuka biru yang mendukung ekosistem lingkungan dan area rekreasi masyarakat.


Kritik serupa juga disampaikan Burhan H. Amin, warga Kota Bima. Ia menyayangkan lokasi pembangunan kolam retensi yang ditempatkan di kawasan Taman Ria.


Menurutnya, pembangunan kolam retensi seharusnya berada di jalur utama aliran banjir, mengingat proyek tersebut merupakan tindak lanjut penanganan pasca banjir bandang besar yang melanda Bima pada tahun 2016 lalu.


“Seharusnya kolam retensi dibangun di daerah yang memang menjadi jalur aliran air banjir. Kalau di Taman Ria, airnya datang dari mana? Saluran dari arah selatan seperti Mande dan Sadia saja ukurannya tidak sampai satu meter,” ujar Burhan.


Warga juga mempertanyakan dampak lingkungan dari pembangunan tersebut, terutama setelah banyak pohon besar di kawasan Taman Ria ditebang. 


Mereka menilai pohon-pohon yang telah tumbuh selama puluhan tahun itu tidak mudah digantikan dalam waktu singkat.

Hingga kini, pembangunan kolam retensi di Taman Ria masih menjadi perdebatan di tengah masyarakat. Sebagian warga mendukung upaya pengendalian banjir, sementara sebagian lainnya menilai lokasi proyek perlu dikaji ulang agar tidak mengorbankan ruang terbuka hijau yang selama ini menjadi ikon kesejukan Kota Bima.


##http//www.kontrasbima.com

## PT.Media Kontras Nusantara

## Berita Politik/ Pemerintahan

## Kota Bima/Bima/Dompu/Sumbawa/KSB

## Editor Montndai

## Advetorial/liputan khusus


×
Berita Terbaru Update